Waktu yang tepat..
“…kapan bisa melihatnya lagi? rambut gondrong yang setengah bergelombang itu mungkin sekarang sudah dipotong, mata belok yang tertutup kaca mata itu tak lagi memandang liar disekeliling yang bisa kulihat, langkahnya yang sangat santai ketika masuk kelas itu tak lagi tertangkap, dan gayanya saat makan kue danusan sambil berjalan dan mengobrol itu sama sekali bukan tipe seorang salman.”
”..terakhir saat Hari Jumat, telingaku begitu tajam mendengar samar-samar suara dehem dan candaannya, BENAR!!! teret tet tereeeeeeet! setengah mati ketika langkahnya mendekat dan sosoknya terlihat. Pas sekali saat itu memilih jalur bus yang lebih panjang dan duduk di sekitar pintu. Seorang guru bimbel -ah bukan, mungkin guru privat- berangkat dengan KRL -mungkin juga commuter- dari stasiun UI, jam 1/2 an.”